MENGENAL 3 TARIAN TRADISIONAL BUTON


1. TARI MANGARU

Setiap tari tradisional daerah punya sejarah yang berasal dari leluhurnya masing-masing seperti tari mangaru. ada cerita dibalik indahnya perpaduan gerakan tari mangaru dan alat musik yang mengiringi.


Tari Mangaru menggambarkan para lelaki yang berperang dan memiliki keberanian di zaman dahulu saat sedang bertempur. Penampilan ini dilakukan oleh dua orang laki-laki sebagai gambaran peperangan. Sebagai tarian yang menjadi gambaran keberanian perang, maka wajib membawa senjata.

gambar keris tari mangaru

Senjatanya adalah keris yang dipakai masing-masing penari. Penari akan memasuki arena tari seperti akan bertarung. Saat musik dimainkan, mulailah mereka saling serang. Pertama keris diputar-putar ditangan seperti memamerkan kekuatan. Lalu, mereka berpura-pura saling menyerang menggunakan keris seperti hendak menusuk. 

Pakaian yang digunakan saat tampil adalah pakaian adat Buton. 

pakaian adat buton

Adat Buton memang memiliki banyak pakaian. Namun, yang digunakan oleh penari adalah pakaian perangkat adat. Pakaian Tari Mangaru ini sangat terlihat dari ciri khasnya berupa jubah kain tenun yang cantik. Mereka juga menggunakan sarung dan ikat kepala. Pakaian ini dimasa lampau, merupakan pakaian kehormatan yang dipakai oleh bangsawan atau orang dilingkungan kerajaan.

Tari mangaru diiringi oleh alunan dua buah gendang yang terbuat dari kulit hewan. Musik yang dimainkan bertempo cepat dan membangun suasana suka cita. Ini membuat penari dan penonton lebih semangat saat menyaksikan penampilan tari mangaru. 

Dahulu, tarian ini ditampilkan untuk menunjukan suka cita yang datang. Seringkali tari ini juga ditampilkan saat musim panen tiba. Maka dari itu seringkali tari mangaru ini menjadi tarian saat ada perayaan, upacara, atau acara yang dilihat oleh banyak orang. Di masa sekarang kadang ada acara hajatan atau khitanan yang menampilkan tarian ini. Jika dilihat lebih lanjut, memang tarian ini lebih mirip dengan atraksi bela diri. Apalagi menggunakan senjata dalam penampilannya. Namun, keindahan dari gerakan dan musik tetap bisa dinikmati sebagai seni tari. 

Sayangnya jumlah penampilannya sudah jarang. Kini tarian itu lebih sering ditampilkan saat ada penyambutan tamu. Sampai sekarang, tari ini mengalami berbagai pengembangan dan kreasi dengan tetap menjadikan semangat keberanian saat berperang sebagai dasarnya.

Fidio tari mangaru


2. TARI BOSU


Tarian ini diciptakan oleh Laode Umuri Bolu pada tahun 1972. Asal mula kerajinan tangan membuat bosu (buyung) dari tanah liat itu berasal dari kampung Laboora. Setelah melihat keterampilan itu, maka Murhum pada waktu itu belum menjabat Sultan tertarik untuk mengembangkannya di Buton (Wolio).

gambar tarian bosu

Tari bosu mencerminkan adat istiadat dan aktivitas masyarakat Buton. Fokusnya lebih kepada aktivitas kaum perempuan Buton yang mengambil air dengan bosu, wadah dari tanah liat untuk keperluan rumah tangga. Tari ini juga menggambarkan masyarakat Buton yang menjunjung tinggi harkat martabat kaum wanita. Perlu diketahui bila kerajaan pertama Buton awalnya dipimpin oleh seorang perempuan, yakni Putri Wakaka. 

tari bosu biasanya di tampilkan pada saat festival budaya buton maupun acara acara sebagainya.

3. TARI LINDA


Tari Linda adalah tari tradisional masyarakat muna. Tari ini telah ditampilkan sejak masa Wa Ode Kamomo Kamba. Ia adalah putri dari La Ode Husein yang menjadi raja kerajaan muna pada abad ke-16 masehi. Tari ini dilakukan oleh para gadis remaja dalam rangkaian acara kedewasaan masyarakat Muna yang disebut Karia. Tari Linda diciptakan oleh permaisuri raja La Ode Ngkadiri yang bernama Wa Ode Wakelu. La Ode Ngkadiri adalah raja Kerajaan Muna yang ke-12. Oleh karenanya, Tari Linda disajikan oleh perempuan Muna yang sudah berkeluarga. ama Tari Linda berasal dari Bahasa Muna, yang berarti “menari sambil berkeliling”. Penamaan ini didasari oleh gerakan para penari yang berkeliling seperti burung yang terbang berkeliling dengan sayap yang indah. Dalam perkembangannya, Tari Linda mulai dikenal juga oleh masyarakat di Pulau Buton

 pakaian yang di gunakan dalam tari linda . 

busana yang di gunakan saat menari linda

Badhu kombo

Badhu kombo adalah pakaian adat suku Muna yang digunakan oleh para gadis selama menarikan Tari Linda. Warna bajunya adalah putih yang melambangkan kesucian dari gadis yang menari. Pinggiran baju pada Badhu kombo memiliki warna merah yang dimaknai sebagai perbatasan larangan kodrat seorang wanita. Selain itu, bahan pembuatan bagian baju yang berwarna merah adalah wo merah. Ini dimaknai sebagai warna kedewasaan bagi para gadis.

Punto

Punto adalah rok yang dipasang paling luar oleh para penari Tari Linda. Rok ini digunakan setelah mengenakan rok bagian dalam pada kostum tari Linda. Warna kainnya adalah hitam dan merah. Ini melambangkan budaya suku Muna. Pesannya bahwa segala macam kejahatan yang ditemui dalam masyarakat suku Muna akan selalu dikahalahkan oleh keberanian yang berlandaskan pada membela kebenaran. Punto memiliki hiasan emas sebagai perlambangan harga diri perempuan agar tidak dipandang murahan dan derajatnya sangat tinggi.

Ndoro panda

Ndoro panda adalah rok yang digunakan sebelum Punto. Warna kainnya yaitu putih, hijau, kuning dan merah.. Warna-warna ini merupakan perlambangan bahwa setiap manusia memiliki adat istiadat serta budaya yang berbeda-beda, tetapi perbedaan tersebut menjadikan manusia harus saling menolong dan bekerja sama. Warrna putih melambangkan kesucian, hijau mewakili keagamaan, kuning melambangkan perdamaian dan warna merah melambangkan keberanian dan pertumpahan darah.


Dali-dali manu dan Simbi

Dali-dali manu adalah anting-anting yang berbentuk burung. Anting-anting ini berwarna emas atau perak. Warna ini wewakili pepatah yaitu '' setinggi-tingginya burung yang terbang, pada akhirnya akan ke kubangan juga''. Ini dimaknai pada jenjang pendidikan wanita yang setinggi apapun tetap akan melakukan kehidupan berumah tangga juga. Dalam Tari Linda, para penari juga menggunakan gelang yang disebut Simbi. Gelang ini berbentuk bulat yang terbuat dari emas atau perak. Dalam Tari Linda, gelang ini digunakan sebanyak empat buah secara bersusun dengan dua gelang di tangan kanan dan dua gelang di tangan kiri. Jumlah keseluruhan gelang ini adalah delapan. Ini melambangkan sifat yang harus dimiliki oleh seorang wanita yaitu adil, jujur, dan bijaksana dalam menjalani kehidupa berumah tangga. Selain itu, ini juga berarti bahwa pasangan hidup harus saling menyemangati dan tidak memiliki rahasia yang disembunyikan dari pasangannya.

Dhao-dhaonga dan Panto

Dhao-dhaonga adalah kalung khusus yang hanya digunakan pada Tari Linda. Warna kalung ini adalah emas. Ini dilambangkan sebagai kehidupan berumah tangga yang dialami oleh wanita memiliki banyak kejadian yang tidak pasti dan selalu berubah-ubah seiring waktu. Dalam Tari Linda, para penari juga mengenakan tusuk sanggul yang disebut panto. Jumlahnya ada tiga yang melambangkan persatuan bagi para generasi penerus bangsa. Sifat yang dilambangkannya adalah saling tolong-menolong dan bergotong royong serta bahu-membahu untuk menyatukan masyarakat Muna.

Kabunsale dan tarima kasi

Kabunsale adalah hiasan sanggul yang terbuat dari kain dengan hiasan pinggir dan manik-manik pada bagian luar permukaannya. Bentuknya adalah persegi di bagian ujung atas, sedangkan bagian ujung bawah berbentuk bulat dan terjuntai ke bawah. Hiasan ini melambangkan kecantikan gadis Muna yang tidak hanya cantik secara penampilan, tetapi juga cantik secara perilaku. Keterampilan yang harus dimiliki oleh para gadis sebelum menjalin rumah tangga adalah keterampilan menjahit, menenun, dan memasak. Keterampilan ini digunakan untuk menciptakan rumah tangga yang bahagia dan tenteram.  Hiasan lsanggul lain yang digunakan dalam Tari Linda adalah tarima kasi. Bentuknya seperti daun jambu mente dengan lima titik yang dipasang tegak lurus di atas sanggul para penari. Ini melambangkan lima rukun Islam dan memberikan pesan bahwa manusia harus saling mengingatkan satu sama lain, saling menghormati, saling menghargai serta menjadi pribadi yang taat beragama dalam bermasyarakat dan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Lilitan Konde dan Sulepe

Dalam Tari Linda, lilitan konde digunakan untuk melingkari sanggul penari. Lilitan konde ini berwarna merah dan terbuat dari kain. Warna dan bahannya melambangkan hidup seumpama lingkaran yang dalam perputarannya selalu ada keadaan yang berbeda dan tidak selalu sama. Oleh karenanya, manusia harus menjadi pribadi yang bijak dan baik dalam memutuskan sesuatu hal. Para penari Tari Linda juga mengenakan i kat pinggang yang disebut Sulepe. Bahan pembuatannya adalah kain yang berwarna kuning. Ini melambangkan bahwa dalam rumah tangga, suami dan istri harus saling menghormati sehingga kehidupan mereka dapat berlangsung dengan tenteram dan tanpa perselisihan.

Kapusuli

Kapusuli adalah sapu tangan yang digunakan dalam tari Linda. Warnanya adalah putih dan digunakan pada tangan kanan dengan penjepit pada jari tengah dan jari telunjuk. Sapu tangan menjadi simbol kelincahan para wanita Muna dalam etika dan adat istiadat yang berlaku. Selain itu, sapu tangan ini juga menjadi lambang untuk menjaga lisan dalam bertutur kata dan menjaga kesucian jasmani maupun rohani.

Salenda

Salenda adalah selendang yang digunakan pada Tari Linda. Selendang ini digunakan pada lingkaran leher bagian depan. Ujung selendang dijepit dengan tangan kiri pada jari tengah dan telunjuk. Ini melambangkan kesucian seorang gadis remaja yang ditentukan oleh dirinya sendiri, Jika wanita pandai menjaga diri maka ia akan selamat dari bahaya dan sebaliknya. 

Alat musik yang di gunakan pada tari linda. 

gambar alat msausik tari linda

Alat musik yang digunakan yaitu gendang, gong gantung dan kasepe. Musik ini dimainkan oleh seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Musik yang dilantunkan memiliki irama yang cepat. Ini berkebalikan dengan gerakan Tari Linda yang sangat pelan. Ini melambangkan bahwa gadis remaja yang tumbuh perlahan memiliki banyak godaan yang silih berganti dan cepat dari lingkungan sekitarnya. Oleh karenanya, musik ini memberikan pesan bahwa perempuan tidak boleh terpengaruh untuk melakukan kemaksiatan. Perempuan harus bersikap tenang, penuh konsentrasi dan pandai membedakan antara yang baik dan buruk.







Komentar